close
close

Pengertian Perbudakan



Pengertian Perbudakan 

Desember 30, 2014 by Sugi Arto

Dalam literatur hukum perburuhan yang ada, riwayat hubungan perburuhan di Indonesia diawali dengan suatu masa yang sangat suram yakni zaman perbudakan, rodi dan poenale sanksi (sanksi poenale).

Perbudakan (menurut Wikipedia Bahasa Indonesia) adalah sebuah kondisi di mana terjadi pengontrolan terhadap seseorang (disebut budak) oleh orang lain. Perbudakan biasanya terjadi untuk memenuhi keperluan akan buruh atau kegiatan seksual. Bukti-bukti keberadaan perbudakan sudah ada sebelum tulis-menulis, dan telah ada dalam berbagai kebudayaan. Kuburan prasejarah di Mesir Bawah sejak 8000 SM menunjukkan bahwa suatu masyarakat Lybia telah memperbudak suatu suku.

Pada catatan terawal perbudakan sudah dianggap sebagai institusi yang mapan. Kode Hammurabi (sekitar 1760 SM) contohnya, menyatakan bahwa hukuman mati dijatuhkan bagi siapa saja yang membantu seorang budak melarikan diri sebagaimana orang yang menyembunyikan seorang buronan.

Perbudakan adalah suatu peristiwa di mana seseorang yang disebut budak melakukan pekerjaan dibawah pimpinan orang lain (Husni Lalu 2003 : 1). Para budak hanya memiliki kewajiban untuk melakukan pekerjaan yang diperintahkan oleh tuannya. Pemilik budak merupakan satu-satunya pihak yang mendominasi antara pemberi dan penerima pekerjaan.

Terjadi perbudakan pada zaman dahulu disebabkan karena para raja, pengusaha yang mempunyai ekonomi kuat membutuhkan orang yang dapat mengabdi kepadanya, sementara yang miskin ekonominya saat itu cukup banyak yang disebabkan karena rendahnya kualitas sumber daya manusia, sehingga tidak mengherankan perbudakan hidup  tumbuh dengan subur.

Perbudakan dikenal hampir dalam semua peradaban dan masyarakat kuno, termasuk Sumeria, Mesir Kuno, Tiongkok Kuno, Imperium Akkad, Asiria, India Kuno, Yunani Kuno, Kekaisaran Romawi, Khilafah Islam, orang Ibrani di Palestina dan masyarakat-masyarakat sebelum Columbus di Amerika. Institusi tersebut berupa gabungan dari perbudakan-hutang, hukuman atas kejahatan, perbudakan terhadap tawanan perang, penelantaran anak, dan lahirnya anak dari rahim seorang budak.

Pengertian Perbudakan

Catatan mengenai perbudakan di Yunani Kuno ada sejak zaman Yunani Mycenaia. Athena Klasik memiliki populasi budak terbesar yang mencapai 60.000 jiwa pada abad ke-5 dan ke-6 SM. Ketika Republik Romawi memperluas wilayah, banyak masyarakat yang diperbudak mengakibatkan naiknya suplai di Eropa dan Mediteran. Orang Yunani, Iliria, Berber, Jerman, Inggris, Trasia, Galia, Yahudi, Arab, dll. melakukan perbudakan bukan hanya untuk pekerjaan keras namun juga untuk hiburan.

Para budak adalah golongan manusia yang dimiliki oleh seorang tuan, bekerja tanpa gaji dan tidak mempunyai hak asasi manusia. Pengertian budak yang paling umum dapat dilihat pada pernyataan berikut:
“kita bisa mendefinisikan budak dalam pengertian paling lazim dari kata ini sebagai seseorang yang menjadi hak milik pribadi orang lain yang secara politik dan social berada di tingkatan lebih rendah dibanding kebanyakan orang dan melaksanakan kerja wajib” (Nieboer 1910: 5, dalam Reid 2004: 241).

Perbudakan sebagai bentuk pengerahan tenaga kerja yang tidak manusiawi dan tercela tersebut mulai mendapat perhatian dari “Gubernur Jenderal Inggris” yang bekuasa saat itu yakni T.S Raffles yang dikenal anti perbudakan, upaya untuk penghapusan perbudakan saat itu dilakukan dengan mendirikan suatu lembaga yang disebut “The Java Benevolent Institution”. Sehingga sampai dengan terciptanya hukum ketenagakerjaan, dimana istilah perbudakan tidak sesuai lagi dengan untuk sebutan hukum modern dan telah diganti dengan istilah tenaga kerja yang artinya adalah
“Setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat” (Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 TentangKetenagakerjaan).


Selain perbudakan dikenal juga istilah perhambaan dan peruluran. Perhambaan terjadi bila seorang penerima gadai menyerahkan dirinya sendiri atau orang lain yang ia kuasai, atas pemberian pinjaman sejumlah uang kepada seseorang pemberi gadai. Pemberi gadai mendapat hak untuk meminta dari orang yang digadaikan agar melakukan pekerjaan untuk dirinya sampai uang pinjamannya lunas. Pekerjaan yang dilakukan bukan untuk mencicil utang pokok tapi untuk kepentingan pembayaran bunga. Sedangkan peruluran adalah keterikatan sesorang untuk menanam tanaman tertentu pada ladang/kebun dan harus dijual hasilnya kepada Kompeni. Selama mengerjakan ladang/kebun tersebut ia dianggap sebagai pemiliknya, sedangkan bila meninggalkannya maka ia kehilangan hak atas    ladang/kebun tersebut.

Sumber :
  1. Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 TentangKetenagakerjaan.
  2. www.artikata.com
  3. Husni Lalu, Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Rajawali Pers, Mataram, 2003, hal 1

Share This Article
Komentar Anda