close
close

Dirjen Hubla Menetapkan Dua Orang Tersangka


By Sugi Arto

Dirjen Hubla Menetapkan Dua Orang Tersangka
Dirjen Hubla Menetapkan Dua Orang Tersangka

Dirjen Hubla Menetapkan Dua Orang Tersangka. Direktorat Jendral Perhubungan Laut (Dirjen Hubla), Kementerian Perhubungan telah menetapkan dua orang tersangka dalam kasus kapal berbendera Singapura yang diamankan di perairan Tanjungsengkuang, Batam, pada 3 Maret 2015 lalu. Demikian disampaikan Dirjen Hubla, Bobbi Mamahit, saat mengunjungi dan melihat kedua kapal berbendera Belize dan Singapura di Pelabuhan Domestik Sekupang (PDS), Kamis (12/3/2015) malam pukul 21.00 WIB.

Kedua kapal asing ini milik warga Singapura. Kapal bernama SPDM 55 Singapura dan SP Cisco saat memasuki perairan Indonesia. Saat diperiksa petugas, para ABK tidak dapat menunjukkan dokumen resmi.

Terang Bobbi di pelabuhan Kamis malam (13/3), "Dari sembilan orang yang berada di dua kapal tersebut, kita sudah tetapkan dua orang tersangka yang berkewarganegaraan Indonesia. Sementara yang lainya masih sebatas sebagai saksi dan tidak kita lakukan penahanan ditahan".

Dua orang yang sudah kita tetapkan sebagai tersangka tersebut adalah Joni Siahan dan Rudintok Palapa. Keduanya adalah bertugas sebagai nakhoda kapal SB Sea Sparrow I berbendera Belize dengan bobot 27 GT milik Searching Offshore Pte Ltd dan kapal SB DM 55 berbendera Singapura dengan bobot 62 GT milik DM Sea Logistic Pte. Kita belum mengetahui barang muatan keseluruhan yang dibawa oleh dua kapal perusahaan yang berbasis di Singapura itu. Yang jelas, kata Bobbi, keduanya membawa bahan makanan logistik untuk mereka.
Untuk daging-daging yang telah membusuk sudah kita buang. Jadi untuk keseluruhanya belum kita lakukan sepenuhnya pengecekan, karena masih tahap penyelidikan Ditjen Hubla yang langsung menangani kasus ini.

Bobbi menjelaskan, dua kapal itu terbukti melakukan kegiatan ship to ship transfer tanpa memiliki izin dari Syahbandar dan tidak disertai dokumen penting. Menurutnya, hal itu sangat berpotensi mengancam keselamatan dan keamanan pelayaran wilayah Indonesia, khususnya di Kepulauan Riau, Batam, sebagaimana diatur dalam Konvensi Hukum Laut 1982 atau United Nations Convention on The Law of the Sea (Unclos) 1982.

Kedua kapal juga melanggar ketentuan pidana pelayaran yang diatur dalam UU Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran, Pasal 317 juncto 193, pasal 302 juncto 117 dan Pasal 287 juncto 27," terangnya.

Sebelumnya Kantor Pelabuhan Batam, Kepulauan Riau, menangkap dua kapal asing dari perairan Batam. Dua kapal asing ini tertangkap saat sedang masuk ke Perairan Indonesia. Sejumlah ABK masih dimintai keterangan. Dua orang warga Singapura, 1 warga India, dan empat warga Indonesia.

Dirjen Hubla Kemenhub Bobbi Mamahit dalam siaran persnya mengatakan, dua kapal tersebut yakni SB. Sea Sparrow I, berbendera Belize dengan bobot 27 GT (Gross Tonnage) milik Searching Offshore PTE LTD dan kapal SB.DM.55 berbendera Singapura dengan bobot 62 GT milik DM. Sea Logistic PTE. LTD. "Kedua perusahaan tersebut berkedudukan di Singapura.

Kedua kapal tersebut, ditangkap oleh petugas Patroli Kantor Pelabuhan Batam dengan menggunakan KNP.330 dan KNP.592 di perairan Indonesia pada koordinat 01 13,416 Bujur Timur/103 59 992 Bujur Selatan dengan jarak 2,4 mil dari Tanjung Sengkuang Batam.

Dari hasil pemeriksaan petugas KNP.330, diketahui kelengkapan dokumen kapal serta kru kapal ternyata berupa foto copy yang sudah habis masa berlakunya,"

Saat ini menurut Bobby, Tim Penyidik dari Ditjen Hubla sedang melakukan pemeriksaan terhadap dokumen kapal dan kru, serta orang asing yang berada di kedua kapal tersebut, jelasnya. (Sugi Art)
Share This Article
Komentar Anda

2 komentar